Semarang-
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengingatkan bahwa bangsa
Indonesia pernah melalui masa-masa kelam, ketika harga diri bangsa direndahkan
dan martabat nasional diinjak-injak. Luka sejarah itu, menurut Presiden, tidak
boleh dilupakan karena menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran
kebangsaan hari ini dan ke depan. Hal
Namun
demikian, Presiden Prabowo menyoroti kenyataan bahwa memori kolektif bangsa
justru terancam pudar. Situs-situs bersejarah yang menjadi saksi bisu
perjuangan nasional satu per satu terpinggirkan, bahkan tergusur oleh arus
pembangunan yang kurang berpihak pada nilai sejarah.
Dari
Stasiun Radio Republik Indonesia (RRI) tempat Bung Tomo membakar semangat
perlawanan Arek-arek Suroboyo, situs kolam renang Manggarai tahun 1978, hingga
peninggalan-peninggalan kejayaan Majapahit yang kini beralih fungsi, jejak
sejarah bangsa perlahan kehilangan ruangnya. Presiden menegaskan bahwa
menghormati sejarah bukan semata tentang masa lalu, melainkan tentang menjaga
identitas bangsa untuk masa depan.
“Kadang-kadang
kita tidak menghormati sejarah kita,” ujar Presiden Prabowo. Pernyataan ini
menjadi pengingat bahwa masyarakat mulai melupakan betapa besar dan beratnya
perjuangan para pendahulu dalam merebut kemerdekaan. Kemerdekaan, tegas
Presiden, tidak hadir dengan mudah, melainkan melalui pengorbanan panjang dan
penderitaan yang mendalam.
Presiden
Prabowo juga menegaskan bahwa keberadaan bangsa Indonesia saat ini bukanlah
hasil kerja satu orang atau satu generasi semata.
“Keberadaan
kita hari ini bukanlah kerja satu orang atau satu generasi,” kata Presiden.
Ia
menekankan dengan penuh keyakinan bahwa Indonesia sampai pada titik hari ini
berkat perjuangan panjang dan kontribusi semua pemimpin, pemerintahan, serta
pejabat daerah di setiap era. Setiap presiden, sejak yang pertama hingga
sekarang, telah menyumbangkan perannya masing-masing demi kelangsungan hidup
bangsa.
“Semuanya
telah menyumbang, semuanya telah berkontribusi terhadap kehadiran kita hari
ini,” tegas Presiden, sebagai bentuk pengakuan tulus terhadap seluruh elemen
yang telah membangun fondasi negeri.
Tidak
hanya kepada masyarakat, Presiden Prabowo juga mengingatkan para kepala daerah
sebagai bagian dari pemerintah untuk lebih memberi perhatian serius terhadap
keberadaan situs-situs bersejarah. Menurutnya, tanggung jawab menjaga warisan
sejarah tidak bisa dilepaskan dari peran pemerintah daerah.
“Ini
para kepala daerah harus memikirkan,” ucap Presiden.
Dalam
konteks tersebut, ungkapan legendaris JASMERAH—Jangan Sekali-kali Melupakan
Sejarah—yang disampaikan oleh Bapak Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia
kembali relevan dan menjadi tonggak penting untuk dilaksanakan saat ini.
Presiden
menekankan bahwa masyarakat bersama perangkat pemerintah perlu kembali
memperhatikan dan menjaga nilai-nilai sejarah, baik di tingkat daerah maupun
nasional. Tanpa sejarah yang hidup dan terawat, bangsa ini akan kehilangan
ruang perenungan untuk memahami jati dirinya dan menentukan arah masa depan
yang lebih baik.
Tulis Komentar