Semarang- Presiden Republik
Indonesia Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan 15 pimpinan organisasi
kemasyarakatan (ormas) Islam serta sejumlah tokoh Islam nasional di Kompleks
Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/2/2026). Pertemuan tersebut membahas
berbagai isu strategis, salah satunya terkait keanggotaan Indonesia dalam Board
of Peace (BoP).
Dalam pertemuan tersebut, Presiden
Prabowo memberikan penjelasan secara langsung kepada para pimpinan ormas dan
tokoh Islam mengenai posisi serta arah kebijakan Indonesia dalam partisipasinya
di BoP. Presiden menegaskan bahwa keikutsertaan Indonesia didasarkan pada
pertimbangan yang realistis, strategis, dan selaras dengan komitmen Indonesia
dalam memperjuangkan perdamaian dunia, termasuk kemerdekaan Palestina.
Presiden Prabowo turut memaparkan
bahwa partisipasi Indonesia di BoP merupakan salah satu instrumen diplomasi
untuk memperjuangkan kepentingan kemanusiaan Palestina secara terukur dan
terkoordinasi. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf,
menilai langkah tersebut dilakukan dengan pendekatan konsolidatif bersama
negara-negara Islam dan Timur Tengah yang juga tergabung dalam BoP.
“Sehingga hal-hal yang nanti
dilakukan di dalam Dewan tersebut akan menjadi langkah yang terkonsolidasi di antara
negara-negara yang memang pada dasarnya dan menjadi motivasi mereka
berpartisipasi di dalam Dewan itu untuk membela dan membantu Palestina,” ujar
Yahya Cholil Staquf.
Isu keterlibatan Indonesia dalam
Board of Peace belakangan memang menjadi perhatian publik dan turut memunculkan
beragam pandangan di masyarakat. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan
bahwa Presiden Prabowo telah menjelaskan posisi Indonesia secara terbuka, baik
kepada publik maupun kepada para ulama dan tokoh agama.
Menanggapi adanya penolakan dari
sebagian organisasi masyarakat Islam terhadap keikutsertaan Indonesia di BoP,
Nasaruddin memandang hal tersebut sebagai dinamika yang wajar dalam kehidupan
demokrasi. Menurutnya, perbedaan pandangan sering kali muncul akibat belum
adanya pemahaman yang utuh terhadap kebijakan yang diambil pemerintah.
“Memang kalau orang itu belum paham
penjelasan dari Bapak Presiden berpotensi untuk berbeda pendapat. Tapi setelah
orang mendengarkan penjelasannya secara rinci, maka apa yang disampaikan Bapak
Presiden itu, pada akhirnya alhamdulillah bisa saling memberikan masukan,” ujar
Nasaruddin.
Lebih lanjut, Nasaruddin menegaskan
bahwa Kementerian Agama bersikap proaktif dalam menyosialisasikan sikap dan
kebijakan Presiden Prabowo terkait isu perdamaian global. Ia menyebut Kemenag
telah menggelar berbagai forum akademik dan keagamaan untuk mengartikulasikan
pandangan dan pernyataan Presiden di tingkat nasional maupun internasional.
“Kami proaktif. Kami punya 57 UIN
se-Indonesia. Jadi menanggapi pernyataan Bapak Presiden beberapa waktu yang
lalu, kita langsung adakan empat seminar,” jelasnya.
Pertemuan antara Presiden Prabowo
dan para pimpinan ormas Islam tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman
bersama mengenai peran Indonesia dalam diplomasi perdamaian global, sekaligus
mempererat sinergi antara pemerintah dan elemen umat Islam dalam menyikapi
isu-isu internasional yang strategis dan sensitif.
Tulis Komentar